Just a thought….

Lo pengen dinilai cantik atau pintar, stri?

Itu pertanyaan yang cukup mengejutkan, ditengah pintu lift yang terbuka, dari temen kerja g ketika kita mau cari makan siang. Tadinya kita ngomongin appraisal, dimana dia gak berhenti nanyain appraisal g di klien lain gimana. Mungkin ini bagian dari informasi yang ingin dia keruk sebelum meng-appraise g, atau bagian dari rasa bersalah dia karena meng-appraise associate sebelumnya jelek. Anyway g gak gitu tertarik dengan pertanyaan dia yang pertama mengenai appraisal siy. Tapi pertanyaan yang kedua cukup membuat g terdiam untuk beberapa saat.

Hmm……, sejujurnya g gak merasa keduanya.

Mungkin ada masanya dulu g ber-delusi bahwa g pintar. Ketika waktu SD gak satu pun rengking satu gagal g raih. Atau waktu SMP, pencapaian terbesar g ketika berhasil meraih juara umum di salah satu cawu. Bukan juara umumnya siy yang membanggakan, tapi mengalahkan idola g “dia yang tak mungkin terkalahkan” karena sangat pintar. Tapi setelah SMA, kayaknya g mulai terbangun dari delusi itu. Karena ternyata g tidak pintar. Otak g bekerja melambat. Apa mungkin karena g pernah sakit demam berdarah dimana panas  badan g 40 derajat gak turun2 selama seminggu? Pastinya karena itu. ( muka serius)

Dimulai dari SMA, g merasa susah banget untuk mengerti secara mendalam tentang suatu pelajaran, betapa susahnya fisika, betapa susahnya menjawab try out UMPTN, gimana pas kuliah g gak pernah ngerti jurnal-jurnal konsolidasi, gimana setelah ujian otak g secara otomatis meng-erase semua ilmu yang dipelajari satu semester ke belakang. Gimana otak g sangat lambat dalam mencerna suatu informasi di My Client ataupun menangkis joke- joke dengan cepat. Atau, gak lulus ujian USAP walaupun udah belajar mati-matian.

Akhirnya g sampai pada kesimpulan itu, g gak pintar.

Cantik? Kalo tolak ukur cantik itu Mariana Renata, yah g mah gak ada seujung kukunya kali ya. Tidak cukup langsing, tidak cukup bermata besar berbinar, berhidung mancung en berwajah tirus. Tidak cukup cantik untuk didatangi pencari bakat untuk dijadikan model atau ditawarin maen film. Tidak cukup cantik untuk punya pacar Nicholas Saputra atau cukup cantik untuk menarik cowok yang g taksir buat naksir balik. Sejauh ini, g belum pernah merasa cantik.

Tapi kalo pilihannya hanya dua, ingin dinilai cantik atau pintar, yah g memilih pintar. Alasannya karena cantik (fisik) gak long lasting. Walaupun nanti g face lift semua kerut-kerut di wajah, menyedot semua lemak2 yang mulai tumbuh, kayaknya gak akan bisa menahan proses menjadi tua dan tidak cantik lagi. Lagipula g ingin menikmati proses penuaan dengan semua kerut2nya itu.

Alasan kedua, g juga gak pengen orang baik atau cowok naksir sama g hanya karena g cantik.Okelah, ini adalah hal yang tidak bisa dihindari. Terkadang banyak orang memperlakukan orang berbeda hanya karena kecantikannya. Biasanya perempuan cantik lebih mendapatkan privilege dalam pergaulan, atau dalam interaksi dengan orang lain. Dimana2, mungkin lebih tepatnya, kebanyakan ketertarikan akan lawan jenis dimulai dengan ketertarikan fisik, ya cantik lah atau gantengkah. Enggak bisa disalahin juga sih sebelum kita bener2 kenal sama orang itu, mata kitalah yang melihat dan dicerna diotak sampai turun ke hati. Sejauh ini g gak pernah baik atau suka sama orang hanya karena dia good looking. Jadi g harap orang lain juga begitu.

Yang ketiga, buat g pintar lebih berharga daripada cantik. Jangan salah, G pencinta wanita cantik dan pria ganteng di seluruh dunia ini. Tapi di kehidupan “nyata” g selalu mengidolakan orang yang pintar. Pintar bisa berarti luas, bisa pintar dalam pelajaran, pintar dalam berkomunikasi, pintar menempatkan diri, pintar dalam bidang pekerjaannya, pintar dalam mengeluarkan joke, atau pintar dalam hal2 lain.

Alasan diatas sangatlah subjektif, dari sisi pandang g banget. G yakin banyak orang punya alasan yang berbeda atau bahkan pilihan yang beda. Si pemberi pertanyaan bilang dia pengen dinilai Cantik dan dia memang cantik.

Satu yang terlintas di benak g ketika kita sampe di foodcourt; g gak pengen dinilai, tapi pengen menjadi………

3 Responses to “Just a thought….”

  1. DeDoNk Says:

    Hoy As, ken2 kabare? sptnya uda jadi wanita karir nan sukses ne? :) uda ga pernah pulang ke Bali lagi kah?

    pengen ga pengen penilaian orang2 kan selalu ada. pengen dinilai cantik or pintar… napa ngga sekalian dua2nya? *maruk mode:ON*

    orang pinter yg ngga cantik terkadang lebih sering dpt hambatan lo… yah… inilah reality. kita hidup di dunia yang mengagungkan kecantikan di atas kepintaran.

    orang cantik yg ngga pinter spt vas bunga yg cuma jadi pajangan. sedangkan orang pinter yg ngga cantik spt becak bertenaga ferari :D

  2. Astri Says:

    Hei dedy, baek2 belomlah.

    Semua orang pasti ingin menjadi cantik dan pintar sekaligus. Tapi hanya sedikit orang yang seberuntung itu siy.
    Menurut g semua orang itu cantik dan pintar in her/his way. Tapi lingkungan yang menentukan seperti apa yang disebut cantik atau pintar itu.
    Bottom line: just love your self the way it is.

  3. RusTa Says:

    g yakin di dunia ini klo wanita ingin dikatakan cantik, kecantikan merupakan anugrah dari yang diatas, tanpa disadari wanita hanya berfikir untuk menjadi cantik tidak berharap menjadi wanita yang pintar… padahal dengan kepintaran wanita akan terlihat cantik baik dari dalam atau pun dari luar… sgala hal didunia ini pasti ada nilai yang tersimpan didalamnya, wanita yang cantik adalah wanita yang pintar menilai dan menghargai dirinya sendiri

Leave a Reply